






| Agama dan Modernitas |
|
|
|
| Written by Amos Sukamto | |||||||||
| Tuesday, 13 October 2009 | |||||||||
Page 1 of 7 AGAMA DAN MODERNITAS: SPIRITUALITAS TRANSFORMATIF ALA NURCHOLISH MADJID Amos Sukamto Tuhan adalah Sang Kebenaran Mutlak, karena kemutlakan-Nya maka Dia tidak mungkin akan pernah terjangkau oleh daya insani penalaran manusia.[1] Itulah kesadaran yang disadari sepenuhnya oleh pemikir pembaharu Islam di Indonesia Nurcholish Madjid yang sering dipanggil Cak Nur.[2] Namun kesadaran itu tidak membuat Cak Nur nrimo ing pandum, fatalistiK, justru sebaliknya dia meyakini sebuah prinsip untuk berusaha secara terus menerus mencari kebenaran secara tiada berkeputusan (Madjid, 2008:xii). Kebenaran (termasuk dogma agama yang telah digagas oleh para pendahulunya) baginya bukanlah sebuah finalitas atau kebenaran yang tak tergoyahkan namun itu merupakan rentetan pengalaman kebenaran yang sifatnya nisbi belaka. Meskipun nisbi, namun karena ‘ia berjalan dan bergerak (dinamis) mengarah atau menuju Tuhan (sebagai buah ketulusan, antara lain), ia tetap sangat bermakna’ (Madjid, 2008:xiii). Justru keyakinan seperti inilah yang membuat Cak Nur terus berpikir secara progresif. Tidak mandeg, atau terjebak hanya pada kungkungan para pemikir pendahulunya. Tulisan ini mencoba mengangkat pemikiran Cak Nur bagaimana Kalam Islam dapat tetap relevan bagi zamannya, bahkan lebih dari itu Cak Nur berharap Kalam Islam bisa menjadi penopang bagi suatu peradaban besar di Indonesia.
Konteks Sosial, Budaya dan Politik Teologi Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid dilahirkan pada tanggal 17 Maret 1939[3] di sebuah desa kecil di Jombang, Jawa Timur yang diberi nama Mojoanyar. Jawa Timur merupakan sebuah wilayah yang memiliki banyak pesantren dan merupakan pusat Islam tradisional terbesar di Indonesia yaitu N.U. (Nahdatul Ulama). Dari wilayah ini telah melahirkan ulama-ulama besar seperti Hasyim Ash`ari (1871-1947), Wahab Chasbullah (1888-1971), Wahid Hasyim (1913-1953), Mukti Ali, Abdurrahman Wahid, dan lain-lain. Nurcholish Madjid merupakan salah satu ulama besar yang berasal dari wilayah tersebut.[4] Menurut Fatimah, Nurcholish Madjid dilahirkan dalam sebuah keluarga devoted Muslims yaitu keluarga Santri[5] (1999:9). Ayahnya bernama Abdul Madjid[6] seorang petani biasa sekaligus seorang kyai yang sangat dekat dengan pendiri dan pemimpin N.U. sekaligus pemimpin organisasi Masyumi yaitu H. Hasyim Ash`ari (Fatimah 1999:10). Benih pemikiran modern Nurcholish Madjid agaknya mulai bertumbuh dari ayahnya. Sebelum ayah Cak Nur masuk dalam pendidikan pesantren Tebu Ireng, Abu Thahrir sudah merampungkan pendidikannya di Sekolah Rakyat (S.R) sebuah sekolah sekuler (umum) pada masa kolonial, sehingga menjadikan Thahrir sudah banyak belajar tentang ilmu pengetahuan sekular bahkan akhirnya dia diminta mengajar di pesantren Tebu Ireng ilmu aritmatika dan huruf latin.[7] Ayah Nurcholish Madjid mendapat perhatian khusus dari Hasyim Ash`ari karena potensi yang dimilikinya, sebagaimana kebiasaan pernikahan dalam tradisi Kyai maka ayah Nurcholish Madjid dinikahkan dengan Halimah keluarga dari Hasyim Ash`ari. Setelah cerai dengan Halimah, Abu Thahrir menikah dengan Fathonah anak pengusaha dari Kediri, Jawa Timur dan sekaligus aktifis di Syarikt Dagang Islam (S.D.I). Nurcholish Madjid adalah anak tertua yang dilahirkan dari istri kedua Abu Thahrir yaitu Fathonah. Biografi Singkat Nurcholish Madjid Pada masa kecilnya, Nurcholish Madjid menerima dua macam pendidikan yaitu pendidikan umum (sekular) dan agama. Pada malam hari dia belajar agama di al-Madrasah al-Ibtidã’iyyah al-Wataniyyah di Mojoanyar yang dikelola oleh kedua orangtuanya. Pada waktu pagi Madjid menerima pendidikan umum (sekular) di Sekolah Rakyat sampai tahun 1953. Kemudian, ia melanjutkan di pesantren Darul `Ulum di Rejoso selama dua tahun. Pilihan politik ayahnya untuk tetap di Partai Masyumi[8] mengharuskan Nurcholish Madjid pindah ke Kulliyyat al-Mu`allimin al-Islamiyyah (K.M.I) di Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Namun justru di tempat baru inilah merupakan titik balik dalam pendidikan awal Nurcholish Madjid, Fatimah menyebutnya dengan sebutan ‘at this pesantren indicates that it was an important turning point in his early education’ (Fatimah 1999:18). Hal ini disebabkan Gontor merupakan pesantren modern, betapa tidak sewaktu banyak pesantren yang masih melarang santrinya untuk mengikuti gaya hidup modern seperti bermain musik justru di pondok Gontor disediakan tempat berolah raga, alat musik seperti gitar, piano, dan drum. Di pondok pesantren Gontor santri diijinkan memakai celana panjang sementara ditempat lain mereka hanya diijinkan pakai sarong.[9] Bahasa yang digunakan sebagai pengantar pun bukan hanya bahasa Arab tetapi juga bahasa Inggris. |
|||||||||
| Last Updated ( Friday, 04 December 2009 ) | |||||||||
| < Prev | Next > |
|---|