






| Spiritualitas Tanpa Tuhan |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||||||||||
| Wednesday, 16 September 2009 | ||||||||||||||||
Page 1 of 14 Spiritualitas Tanpa Tuhan, Mungkinkah? Oleh Aripin Tambunan
Pendahuluan Penolakan terhadap eksistensi Tuhan telah dimulai jauh sebelum abad-17, namun intensitasnya semakin kuat dirasakan sejak abad 17 sampai saat ini. Penolakan ini dapat terlihat dari kategori-kategori berikut: Pertama, Kategori kejahatan dan penderitaan. Beberapa orang telah menolak keberadaan Tuhan, karena adanya kejahatan dan penderitaan di dunia ini yang terus berlangsung. Biasanya keberatan mereka adalah sama seperti yang dipertanyakan oleh Fyodor Dostoevski, yaitu: How it is possible for an all-powerful, all good God to permit suffering in the world? (Gould, 1985: 489). B.C. Johnson mengatakan karena ada kejahatan dan penderitaan, maka, ‘…God Cannot be all good and (by implication) that the God of traditional theism is incoherent’ (Lawhead, 2003: 106). Kedua, Kategori kebebasan manusia. Percaya kepada Tuhan menghambat kebebasan manusia. Sebab “jika Tuhan tidak ada segalanya mungkin” demikian dikatakan Dostoevski. Jean Paul Sartre berkata, karena manusia bebas, maka Allah tidak boleh ada. Jika ada Allah, maka manusia tidak memiliki kebebasan. Mengapa? Karena Allah telah mentakdirkan manusia itu dari awalnya, sehingga manusia tidak bebas atau tidak dapat memiliki kedaulatan penuh untuk menentukan dirinya. Dengan demikian, manusia hanya dapat mengembangkan eksistensinya saja. (Lihat Sartre, 1966:559-711). |
||||||||||||||||
| Last Updated ( Tuesday, 24 August 2010 ) | ||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|