






| Varietas Baru Manusia |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||||
| Wednesday, 16 September 2009 | ||||||||||
Page 8 of 8 Kesimpulan Homo Ingenium Praeter Impius adalah manusia genius tetapi fasik, yang memiliki ciri-ciri, manusia hasil produk pendidikan modern, karena dibentuk di universitas-universitas yang menekankan pengetahuan positif ala positivisme. Struktur kemasyarakatannya dibangun berdasarkan nilai uang (materi), karena itu pada masyarakat manusia baru, tidak ada lagi, tenggang rasa, kerja sosial, dan hubungan-hubungan sosial. Hubungan-hubungan sosial digantikan dengan individualisme dan hukum rimba. Religiusitas mereka adalah religiusitas pengetahuan, dan agama mereka adalah agama pengetahuan. Tuhan adalah pengetahuan, Karena itu, mereka tidak dapat menerima Tuhan yang datang melalui wahyu sebagaimana agama tradisi. Liturgi ibadah mereka, berisi nyanyian alam, doa melalui rumus-rumus matematika, fisika, kimia, dan ekonomi, yang dapat menjawab kebutuhan hidup mereka. Dan sistem ekonominya menggunakan kapitalisme yang melipatgandakan modal tanpa memperhitungkan dampak dan hak pribadi pekerja. Hati nurani mati karena dapat melemahkan dalam bertindak dan berpikir, sebagai gantinya dibentuk rasional instrumental yang diterapkan untuk membenarkan tindakannya. Dan jargon mereka adalah apa yang dikatakan Hegel yakni, yang riel itu yang nyata, yang nyata itu yang riel. Artinya, jika sesuatu itu tidak dapat di indrai, itu tidak riel; itu hanyalah ilusi atau fatamorgana.
Bibliographi
Darwin, Charles (Terj. Pusat Penerjemah Universitas Indonesia), The Origin of Species, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007. Engels, Frederick (Terj. Oey Hay Djoen), Tentang Kapital Marx, Bandung: Ultimus dan Yayasan AKATIGA, 2006. Hector Hawton, Filsafat yang Menghibur, Yogyakarta: Ikon, 2003. Morin, Edgar Tujuh materi Penting Bagi Dunia Pendidikan, Yogyakarta: Kanisius, 2005. Pals, Daniel L., Dekonstruksi Kebenaran, Yogyakarta: IRCiSoD, 2003. Woodruff & Long, A.A., Early Greek Phiosophy, Cambridge: Cambridge UP, 1999.
[1] Lihat Hector Hawton, Filsafat yang Menghibur, Yogyakarta: Ikon, 2003, hlm. 35-47. Sekalipun pembelengguan terhadap Thomas hobbes dan Leibniz dilakukan oleh pemerintah, tetapi pemerintah yang dikuasai oleh gereja.
[2] Lihat Pada bagian hukum variasi Charles Darwin, (Terj. Pusat Penerjemah Universitas Indonesia), The Origin of Species, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007), 125-128. [3] Woodruff & Long, A.A., Early Greek Phiosophy, (Cambridge: Cambridge UP, 1999), 305. [4] Frederick Engels (Terj. Oey Hay Djoen), Tentang Kapital Marx, (Bandung: Ultimus dan Yayasan AKATIGA, 2006), 16. [5] Edgar Morin, Tujuh materi Penting Bagi Dunia Pendidikan, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hlm. 24. Ia menuliskan hal tersebut ketika ia diminta oleh UNESCO untuk menuliskan gagasannya tentang pendidikan masa depan. Ia memberikan tujuh materi penting tentang pendidikan masa depan, dan salah satunya ialah mendeteksi kekeliruan dan ilusi. Dan dalam salah satu kekeliruan dan ilusi dalam dunia pendidikan adalah kekeliruan intelektual yang mencakup teori, doktrin dan ideologi. [5] J. Donald Walters, Crisis in Modern Thought: Menyelami Kemajuan Ilmu Pengetahuan dalam Lingkup Filsafat dan Hukum Kodrat, (Jakarta: Gramedia, 2003), hlm. 21.
[6] Daniel L. Pals, Dekonstruksi Kebenaran, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), hlm. 129-168.
|
||||||||||
| Last Updated ( Friday, 04 December 2009 ) | ||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|