






| Varietas Baru Manusia |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||||
| Wednesday, 16 September 2009 | ||||||||||
Page 7 of 8 Peninggian terhadap manusia dan pengetahuan empiris yang kemudian di anut di universiats-universitas telah memicu lahirnya postulat-postulat baru dalam kehidupan manusia. Postulat-postulat baru tersebut diserap oleh mahasiswa-mahasiswa dan dibawa kepada masyarakat yang lebih luas. Dampaknya, terjadi benturan-benturan peradaban antara manusia tradisi dengan manusia varietas baru yaitu, Homo Ingenium Praeter Impius. Benturan tersebut melingkupi sistem nilai, moral, religius, ekonomi, sampai kepada hubungan kekerabatan. Benturan-benturan tersebut dapat jelas terlihat di Eropa pada tahun 1800, benturan antara nilai-nilai keagamaan yang dipegang oleh masyarakat tradisional Eropa Barat telah ditentang dengan suatu nilai baru yang diusung oleh varietas baru, yaitu rasionalitas.[6] Segala sesuatu harus diukurkan berdasarkan rasio, dan bukan lagi kepada otoritas gereja/agama. Dampaknya, sebahagian masyarakat Eropa Barat tidak lagi rindu masuk ke gereja, kalaupun ada yang masuk untuk beribadah ke gereja; mereka adalah para manula dan kalaupun ada kaum muda itu sangat sedikit sekali. Jadi Eropa Barat dapat dikatakan sebagai tempat kelahiran varietas baru ini dan membimbingnya hingga remaja dengan paham-paham empirisme, nihilisme, positivisme. Lalu didewasakan oleh Amerika dengan pragmatismenya yang melanda seluruh sendi-sendi dunia telah mendorong/ mempercepat pengembangbiakkan varietas baru manusia tersebut. Apa yang terjadi di Eropa Barat pada tahun 1800, kini telah dirasakan diseluruh dunia, Indonesia telah ikut merasakannya. Struktur masyarakat Indonesia telah berubah, hubungan kekerabatan, nilai-nilai religius dan tradisional telah mulai ditinggalkan di sebahagian besar masyarakat kota di Indonesia. Bahkan tempat-tempat ibadah dan pola-pola ibadah telah dilanda dengan suatu nilai baru tersebut, yaitu nilai rasionalitas instrumental. Memang saat ini varietas baru ini telah banyak ditemukan, namun manifestasinya masih ditahan oleh manusia-manusia yang memegang teguh tradisi dan nilai-nilai religius. Jika manusia tradisi ini mulai sedikit atau berkurang terus, maka manifestasi dari varietas baru ini akan semakin kuat dirasakan di masyarakat. Apalagi jika mereka yang akan memegang tampuk kekuasaan, maka tatanan nilai-nilai atau norma-norma kemasyarakatan akan berubah secara signifikan. |
||||||||||
| Last Updated ( Friday, 04 December 2009 ) | ||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|