• www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net

Waktu Hari ini

Statistics

OS: Linux m
PHP: 5.2.9
MySQL: 5.0.92-community-log
Time: 13:17
Caching: Disabled
GZIP: Enabled
Members: 56
News: 151
Web Links: 9
Visitors: 56524

Syndicate

H o m e

Perkuliahan Christian Leadership Dimulai Tanggal 20 Januari 2012
Varietas Baru Manusia PDF Print E-mail
Written by Aripin Tambunan   
Wednesday, 16 September 2009
Article Index
Varietas Baru Manusia
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8

Ekonominya

            Mereka memakai sistem ekonomi kapitalisme, mengapa kapitalisme? Karena kapitalismelah yang cocok dengan peradaban baru dari varietas baru tersebut. Mengapa? Karena salah satu kekuatan kapitalisme adalah mendapatkan laba, tanpa mementingkan nilai-nilai tradisi. Sikap kapitalis berjuang untuk labanya, ia tidak mau dihalangi oleh perasaan-perasaan kemanusiaan yang hanya melemahkannya dalam mengejar laba. Itu sebabnya, para buruh dijadikan alat produksi, sehingga para pekerja menurut Marx dalam Frederick Engels, harus berjuang agar dapat sebagai mahluk manusia yang memiliki kegiatan-kegiatan lain selain bekerja, tidur dan makan.[4]

            Pada masyarakat varietas baru, sistem ekonomi yang demikianlah yang harus digunakan. Jika tidak maka, mereka bukan lagi manusia unggul, Homo Ingenium Praeter Impius. Sebab mereka harus memiliki ekonomi yang kuat, jika ingin menggantikan  varietas pertama manusia, yakni manusia tradisi. Dengan kekuatan ekonominya, mereka akan dapat merombak tatanan dunia sesuai dengan paham-paham mereka.

Sistem ekonomi kapitalis telah menguasai Barat, dan berlanjut ke Asia. Di Indonesia dalam bentuk-bentuk yang lebih sederhana dapat terlihat pada orang-orang yang membuka tempat-tempat kos, tidak lagi memikirkan aspek-aspek moral. Seorang pria atau wanita yang kos, dapat membawa pacar/ kekasihnya tidur di sana tanpa pernah dipersoalkan ibu kos. Sebab yang penting bagi ibu kos adalah mendapatkan laba dari rumah kosnya.

Pendidikan Sebagai Dapur Pengolahan

Seorang Teolog yang bernama, Gresham Machen mengatakan, kalau dunia adalah restoran yang menyajikan beragam menu-ide filsafat yang mayoritas melawan Allah, maka universitas menjadi dapurnya. Ruang kuliah menjadi wadah di mana worldview dimasak sampai matang. Dari pendapat ini dapat dimengerti, bahwa pendidikan yang berlangsung di universitas-universitas merupakan dapur pengolahan atau bidan yang melahirkan varietas baru ini sehingga mereka memiliki worldview seperti yang mereka miliki di atas.

Pendekatan pendidikan yang saat ini ada di universitas-universitas telah berubah secara signifikan, yang tadinya masih mengacu kepada doktrin atau otoritas agama dalam pendekatan pengembangan pengetahuan, berubah ke arah pendekatan yang hanya berlandaskan pengetahuan empiris atau lebih tepatnya pengetahuan positif yang mengacu kepada kebebasan berpikir. Suatu pengetahuan yang tidak dapat menerima adanya pengetahuan metafisika dan tidak dibatasi oleh nilai-nilai agama.

Mengapa pendekatan yang mengacu pada doktrin/ otoritas agama ditinggalkan? Karena ketidak puasan terhadap perilaku doktrin itu sendiri yang tidak dapat digugat, diperbaiki, dipertanyakan, sehingga bertentangan dengan sifat pengetahuan yang selalu memunculkan suatu pengetahuan baru dan pemahaman baru terhadap kehidupan. Dan memang demikianlah sifat doktrin, seperti yang dikatakan Edgar Morin, bahwa doktrin-doktrin adalah teori-teori tertutup yang secara mutlak yakin akan kebenarannya dan kebal terhadap semua kritik yang menunjukkan kekeliruannya.[5]

Pendidikan yang mengacu kepada kebebasan berpikir yang dianut oleh universiats-universitas saat ini, sebenarnya telah mulai dikembangkan sejak zaman pencerahan. Zaman pencerahan merupakan zaman dimana ilmu pengetahuan mulai diagungkan, dan otoritas agama/doktrin mulai ditinggalkan. Pengagungan terhadap pengetahuan ini dapat terlihat dalam buku Darwin, The Descent of Man. Suatu buku yang memberikan pemahaman baru, bahwa manusia bukanlah ciptaan Tuhan, tetapi merupakan hasil evolusi dari kera.  Dari hasil pemahaman ini, maka nilai-nilai pewahyuan dari kitab suci mulai ditinggalkan dan digantikan dengan nilai-nilai pengetahuan positif. Dan pengetahuan positif inilah yang dikembangkan di universitas-universitas, yang hanya dapat mencerdaskan rasio namun tumpul iman. Sebagai akibat dari sistem pendidikan yang seperti itu, maka muncullah generasi baru manusia yang ingin meninggikan manusia. Gerakan ini diberinama humanisme yang dipelopori oleh Auguste Comte (1798-1857). Karena manusia terlalu ditinggikan, maka Tuhan sebagai pencipta manusia tidak perlu ditinggikan lagi. Bahkan ide tentang Tuhan-pun telah dihapuskan dari pemikiran mereka.


Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
 
< Prev   Next >
 

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Polls

Apa yang paling Anda inginkan ada di website Inti?
 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini31
mod_vvisit_counterKemarin25
mod_vvisit_counterMinggu ini78
mod_vvisit_counterBulan ini175
mod_vvisit_counterSemuanya12954
We have 15 guests online
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com