






| Varietas Baru Manusia |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||||
| Wednesday, 16 September 2009 | ||||||||||
Page 5 of 8 Pragmatis Act first, think later, perkataan inilah yang paling tepat untuk menggambarkan pragmatisme. Membuat konsep/teori atas suatu tindakan agar jangan salah bertindak, itu tidak berlaku bagi pragmatisme. Mengapa? Karena ada rasional instrumental yang akan digunakan sebagai alat pembenaran dan sekaligus alat pembunuh hati nurani jika berkata-kata. Mereka telah mengubah pola pikir teoritis menjadi praktis. Itu sebabnya, nilai dari sutau perbuatan/perilaku diukur berdasarkan ketepat-gunaan dari suatu tindakan/ perilaku tersebut. Kalau sesuatu itu berdaya guna, meskipun itu melanggar nilai-nilai tradisional dan merusak, maka itu dibenarkan untuk dilakukan. Daya guna merupakan alat ukur dalam segala-galanya, apapun boleh asal berdaya guna pada manusia. Gaya hidup pragmatis inilah yang menjadi pengatur gerak, tindakan varietas baru. Misalnya, seorang pria membutuhkan seks, ia tidak perlu menikah. Ia cukup melampiaskan hawa nafsunya dengan wanita-wanita manapun yang ia suka, yang dapat ia bayar. Praktis, bukan! Karena filosofi mereka adalah, jika ingin makan daging sapi, tidak perlu harus memelihara sapinya, toh banyak daging sapi yang dijual di pasar. Untuk apa harus membebani hidup dengan tanggungjawab terhadap anak dan istri. Tanggungjawab itu merupakan sesuatu hal yang menyebalkan mereka, bagi mereka hidup ini praktis ajalah. Karena hidup itu sendiri telah sulit, untuk apa dipersulit lagi. Nikmatilah hidup, praktis bukan! Genius Pandangan dunia yang mekanistik ala cartesian-newtonian, telah turut menyuburkan perkembangan varietas baru tersebut. Itu sebabnya mereka sangat giat melakukan penelitian untuk memajukan teori-teori ilmiah yang dilepaskan dari iman kepada Tuhan. Kebebasan yang seperti itu, membuat mereka lebih leluasa dalam mengeksplorasi alam. Mereka menjadi orang-orang yang kreatif dalam berpikir, cerdas dalam menjawab persoalan-persoalan yang muncul mengenai manusia dan alam semesta. Sekaligus genius dalam membunuh hati nurani dengan metoda rasional instrumental, jika ada keberatan-keberatan hati nurani yang diakibatkan oleh pendekatan-pendekatan ilmiah yang berlawanan dengan hati nurani. Kegeniusan mereka akan terus berkembang seiring perkembangan ilmu, hal tersebut dikarenakan mereka tidak alergi terhadap pengetahuan. Bahkan pengetahuanlah yang mereka puja, sebagai tuhan. Kegeniusan mereka semakin dilengkapi dengan munculnya teori quantum atau mekanika quantum yang dirumuskan oleh Albert Einstein dkk, pada abad 20. Perumusan tersebut telah membawa perubahan-perubahan yang mendasar pada konsep-konsep, ruang, waktu, materi, dan objek. Struktur Masyarakatnya Struktur masyarakat dari manusia baru ini juga akan ikut berubah, mereka akan terjalin dalam satu komunitas yang disebut dengan ”kontrak sosial”. Ikatan tali kekeluargaan dan agama tidak lagi diperlukan. Norma-norma kemasyarakatan tidak lagi dibentuk berdasarkan tali kekeluargaan dan keagamaan. Tetapi akan dibentuk berdasarkan kenikmatan/keuntungan secara material yang bisa dinikmati oleh manusia baru tersebut. Keluarga bukan lagi prioritas utama, gaya hidup konsumerisme dan kenikmatan hidup modern telah menggesernya. Membuat hubungan anak orang-tua menjadi hubungan ”investasi.” Karena model hubungan tersebut merupakan investasi, maka tidak jarang anak dikorbankan demi kepentingan si penginvestasi. Pengorbanan tersebut dapat terlihat mulai dari komunikasi, kehangatan hubungan, sampai kepada anak dijual atau dijadikan tumbal demi orang-tua. Orang-tua menganggap anak itu sebagai ”modal atau investasi” jika diperlukan, maka siap untuk diuangkan. Jika keluarga yang merupakan struktur terkecil dari masyarakat telah berubah sedemikian, maka apa yang akan terjadi dengan masyarakat? Masyarakat akan berubah, melihat segala sesuatu dengan kaca mata uang/modal. Segala sesuatu diukur berdasarkan nilai uang, karena itu pada masyarakat manusia baru, tidak ada lagi, tenggang rasa, kerja sosial, dan hubungan-hubungan sosial. Hubungan-hubungan sosial akan hancur, digantikan dengan individualisme dan hukum rimba kembali dikumandangkan, ”siapa kuat, dialah yang menang.” |
||||||||||
| Last Updated ( Friday, 04 December 2009 ) | ||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|