• www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net

Waktu Hari ini

Statistics

OS: Linux m
PHP: 5.2.9
MySQL: 5.0.92-community-log
Time: 13:44
Caching: Disabled
GZIP: Enabled
Members: 56
News: 151
Web Links: 9
Visitors: 56526

Syndicate

H o m e

Perkuliahan Christian Leadership Dimulai Tanggal 20 Januari 2012
Varietas Baru Manusia PDF Print E-mail
Written by Aripin Tambunan   
Wednesday, 16 September 2009
Article Index
Varietas Baru Manusia
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8

            Ada satu anekdot mengenai hal ini, seorang profesor berkata kepada mahasiswanya, Tuhan itu tidak ada. Untuk mendukung pernyataannya, ia bertanya kepada mahasiswanya, siapa yang pernah menyentuh Tuhan? Tak seorangpun mahasiswa mengangkat tangannya. Kemudian ia melanjutkan, siapa yang pernah melihat Tuhan? Tak seorang mahasiswa pun mengangkat tangannya. Maka konklusinya, Tuhan tidak ada. Tiba-tiba seorang mahasiswa berkata, prof boleh saya bertanya. Mahasiswa tersebut berdiri dan berkata pada teman-temannya, siapa yang pernah menyentuh otak profesor itu? Tak seorang pun mengangkat tangannya. Lalu ia melanjutkan, siapa yang pernah melihat otak profesor itu? Tak seorang jua pun yang mengangkat tangannya. Lalu ia berkata, Kesimpulannya profesor itu tidak punya otak, karena tidak dapat di inderai (disentuh dan dilihat).

Nihilis

            Georgias dalam Woodruff & Long, A.A., mengatakan, it is nothing, even if it were something, it would be unknownable, even if it were knowable, it could not be made evident to others[3]. Perkataan itu menyatakan ketiadaan apapun, karena tidak ada apapun yang dapat diketahui manusia dengan baik. Karena ketiadaan apapun, maka mereka menyangkal adanya kepastian normatif. Sama seperti yang digagas oleh Schopenhauer, bahwa tidak ada nilai yang memiliki dasar yang kuat. Sebab setiap nilai-nilai tergantung dari kesepakatan, tempat, dan paham yang mendasari nilai-nilai tersebut. Bahkan kaum positivisme mengatakan bahwa nilai sebagai suatu yang irrasional.

            Jadi mereka berjalan pada ketiadaan apapun, baik nilai maupun pengetahuan yang pasti. Bahkan mereka tidak tahu untuk apa mereka hidup. Mereka ada karena proses alamiah yang sedang menuju kepada ketiadaan. Akibatnya, mereka bagaikan robot hidup yang diprogram oleh pendidikan modern.

Religiusitas Pengetahuan

            Meskipun mereka tidak percaya kepada Tuhan, tidak memiliki hati nurani sebagai tempat bertumbuhnya religius, bukan berarti mereka tidak religius. Mereka adalah orang-orang religius, namun tempatnya bukan di hati tetapi di otak. Walaupun mereka tidak percaya kepada Tuhan, bukan berarti mereka tidak memiliki tuhan; Tuhan mereka ialah pengetahuan.

Agama mereka ialah kepercayaan kepada pengetahuan yang dapat mensejahterakan mereka ketika masih hidup di dunia ini. Tidak ada hari esok, tidak ada kebangkitan orang mati. Karena menurut mereka, kehidupan yang kita ketahui hanyalah kehidupan yang ada di dunia ini. Dunia lain, itu tidak dapat dimengerti, karena tidak dapat dimengerti secara empiris. Maka  ungkapan yang mereka pakai adalah ungkapan Hegel,  yakni yang riel itu yang nyata, yang nyata itu yang riel. Artinya, jika sesuatu itu tidak dapat di indrai, itu tidak riel; itu hanyalah ilusi atau fatamorgana. Dengan kata lain, kebangkitan orang mati hanyalah ilusi atau fatamorgana.

            Agama pengetahuan, tidak membutuhkan ritual-ritual ibadah. Sebab di sana tidak ada satu pribadi yang harus dipuja, disembah ataupun ditakuti. Agama pengetahuan adalah agama yang memaksimalkan seluruh kemampuan otak untuk mencapai kesejahteraan duniawi. Itu sebabnya, ukuran yang dipakai dalam agama pengetahuan untuk menyatakan seseorang itu religius adalah, seberapa genius, dan seberapa makmur hidupnya; itulah religiusitas mereka.

Ritual agama pengetahuan berisi nyanyian alam, doa melalui rumus-rumus matematika, fisika, kimia, dan ekonomi, yang dapat menjawab kebutuhan hidup mereka. Tidak ada liturgi khusus sebagaimana terlihat bila berlangsung satu ritual keagamaan. Sebab itu ritual mereka, tidak seperti ritual keagamaan tradisi yang dapat membatasi kebebasan mereka dalam berpikir, bertindak, dan berperilaku. Satu-satunya patokan bagi mereka untuk bertindak, berpikir, dan berperilaku adalah kebebasan yang tidak merugikan orang lain (libertinisme).


Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
 
< Prev   Next >
 

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Polls

Apa yang paling Anda inginkan ada di website Inti?
 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini37
mod_vvisit_counterKemarin25
mod_vvisit_counterMinggu ini84
mod_vvisit_counterBulan ini181
mod_vvisit_counterSemuanya12959
We have 10 guests online
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com