Waktu Hari ini

Statistics

OS: Linux m
PHP: 5.2.9
MySQL: 5.0.92-community-log
Time: 13:57
Caching: Disabled
GZIP: Enabled
Members: 56
News: 151
Web Links: 9
Visitors: 56528
H o m e arrow Artikel arrow Umum arrow Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo

Perkuliahan Christian Leadership Dimulai Tanggal 20 Januari 2012
Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo PDF Print E-mail
Written by Aripin Tambunan   
Wednesday, 13 January 2010
Article Index
Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16

Kesucian mereka adalah kesucian berdasarkan darah Yesus. Tetapi selama mereka tinggal di dunia (hidup di dunia) mereka masih berpotensi untuk berbuat dosa. Menurut Agustinus, hal ini terjadi karena relasi manusia dengan Tuhan gagal dikembangkan, sehingga terjadilah distorsi pada diri manusia itu. Akibatnya manusia dapat melakukan kejahatan, tetapi bila seseorang merespon  pada Tuhan dengan ketaatan dan kasih, maka manusia akan baik. Karena itu bukan hanya eksistensi yang harus bergantung pada Tuhan, tetapi sifat manusia juga harus bergantung pada Tuhan agar manusia tetap dalam kebaikan.[8]

Sebab itu, mereka harus terus menerus menyelaraskan sikap, perilaku hidup mereka, kepada Firman Tuhan. Dan jika mereka berbuat dosa, tersedia pengampunan untuk mereka (1 Yoh 2: 1-2). Pengampunan itu bertujuan agar mereka mampu hidup lagi (bangkit lagi dengan berperilaku) sesuai dengan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan. Melalui pengampunan itu, mereka tidak terpuruk ke dalam keputusasaan karena perbuatan dosa mereka. Melainkan mereka akan terus berlatih, sampai mereka dapat menang terhadap keadaan keberdosaan tersebut. Dengan demikian hidup mereka adalah hidup berproses menuju kepada kesempurnaan kekudusan. Seperti yang diungkapkan oleh, Word Biblical Commentary, bahwa ’it is made clear to them that God has not accomplished some instant or total transformation  but has made it possible for them to participate in the truth and thereby produce those ethical qualities appropriate to being like God.[9]

            Kebenaran Allah berkaitan erat dengan kekudusan-Nya. Kebenaran-Nya merupakan “kekudusan Allah yang diterapkan pada hubungan-Nya dengan makhluk-makhluk lain,”[10] Bahasa Ibrani untuk “benar” atau kebenaran (righteousness) adalah ‘tsaddik’, ‘tsedhek’ dan ‘tsedekah’, dan istilah Yunaninya adalah ‘dikaios’ dan ‘dikaiosune’ dan semua kata itu mengandung pengertian tentang keselarasan suatu standar.[11]


Last Updated ( Tuesday, 24 August 2010 )
 
< Prev   Next >
 
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com