| Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||||||||||||
| Wednesday, 13 January 2010 | ||||||||||||||||||
Page 4 of 16 Perilaku tersebut di atas dimungkinkan terjadi oleh karena pembenaran Kristus. Melalui pembenaran Kristus, varietas baru ini dapat ke luar dari kuasa control daging dan masuk pada kehidupan baru seperti tersebut di atas. Sebagai mana yang dikatakan The Communication’s Commentary, Justification creates a new creature, with a new heart, in a new world. The new world is a new realm into which the Christian enters, moving out of the strictures and controls of the powers in the domain of flesh.[4] Memiliki Moral Varietas baru ini memiliki hukum moral yang berlandaskan kepada hukum moral Allah. Hukum moral Allah dapat terlihat dari sifat moral Allah. Sifat moral Allah merupakan sifat-sifat Allah yang mengandung unsur-unsur moral dalam hakekat ilahi-Nya.[5] Sifat moral Allah adalah, sifat Allah dalam hal: kekudusan, kebenaran, keadilan, kebaikan, dan kasih, yang semuanya sempurna adanya di dalam diri Allah. Kekudusan Allah, menunjuk pada keunikan Allah yang absolute; artinya, bahwa Ia terpisah dari seluruh ciptaan-Nya,[6] Terpisah yang dimaksudkan di sini ialah Dia berbeda dari segala ciptaan-Nya. Itu artinya bahwa, Ia sepenuhnya terpisah dari semua dosa dan kejahatan dunia. Bukan saja Ia sama sekali tidak melakukan dan tidak ikut ambil bagian dalam kejahatan yang ada, tetapi Ia membenci kejahatan yang dilakukan manusia, itu sebabnya kekudusan Allah menuntut kekudusan manusia. Seluruh hukum moral-Nya bagi manusia, terbentuk (muncul) dari kesempurnaan kekudusan-Nya. Oleh dan di dalam kekudusan-Nya yang sempurna, “Allah tidak sanggup (unable), sabar (tahan) terhadap kehadiran kejahatan … Ia alergi terhadap dosa dan kejahatan”[7] Allah sangat benci dosa dan sangat murka akan dosa. Oleh karena itu, manusia berdosa harus (otomatis) terpisah dari-Nya Yang Maha Kudus, (Yesaya 59: 1-2). Allah menuntut manusia untuk hidup dalam kekudusan karena itu Tuhan memerintahkan, ‘Kuduslah kamu bagi-Ku, Sebab Aku ini Tuhan, kudus…’ (Imamat 20:26). Itu sebabnya manusia baru ini, harus ada di dalam kekudusan Allah. Bagaimana mereka dapat hidup dalam kekudusan Allah? Bukankah mereka manusia, yang dapat berbuat salah dan berdosa? Sebagai manusia varietas baru, mereka telah dikuduskan oleh darah Yesus (Roma 5:9), itu sebabnya status mereka adalah manusia-manusia yang suci. Kesucian itu bukan berdasarkan perbuatan mereka tetapi berdasarkan kasih Allah di dalam pengorbanan darah Tuhan Yesus di kayu salib. |
||||||||||||||||||
| Last Updated ( Tuesday, 24 August 2010 ) | ||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|