| Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||||||||||||
| Wednesday, 13 January 2010 | ||||||||||||||||||
Page 16 of 16 Kesimpulan Varietas baru manusia, Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo, lahir sebagai ciptaan baru dari Tuhan. Mereka memiliki aspek hukum, aspek moral, dan aspek rasio, yang diciptakan ulang kepada fungsinya yang semula sebagai pencitraan Allah di dunia ini. Karena itu struktur masyarakatnya disusun berdasarkan takut kepada Allah, sehingga ada keadilan, kebenaran, dan kekudusan di dalam hubungan-hubungan kemasyarakatan. Relasi-relasi di dalam masyarakat di dasarkan pada prinsip-prinsip, saling mendahului dalam memberi hormat, hidup berdamai bagi semua orang, dapat sehati sepikir dalam kehidupan bersama, saling menyenangkan diantara sesama. Hubungan-hubungan kekeluargaan merupakan hubungan kasih dan tanggungjawab. Orang tua mengasihi anak dalam tanggung jawab, dan anak mengasihi orang tua dalam rasa hormat. Mereka memiliki sistem ekonomi berbasis mutual economic system (tidak saling merugikan satu sama lain), sehingga tidak akan ada orang miskin di antara mereka. Sebab sungguh TUHAN akan memberkati mereka di negeri yang diberikan TUHAN Allah, kepada mereka untuk menjadi milik pusaka. Akibat sistem ekonomi tersebut, hubungan pekerja dan pemilik modal terjalin harmonis sebab tidak saling merugikan. Dapur pengolahan varietas baru ini adalah pemuridan. Pemuridan merupakan pendidikan yang berbasis pembinaan. Sistem pendidikan ini dijalankan dengan sistem lingkaran yang tidak terputus. Dimulai dari penjangkauan, masuk ke dalam komunitas, lalu diadakan pembinaan agar mereka dapat hidup sesuai dengan norma-norma yang berlaku dan membawanya ke tengah-tengah masyarakat yang lebih luas. Meskipun sistem-sistem yang ada pada varietas Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo ini, bagus dan ideal, tetapi itu tidak dapat berjalan di dalam komunitas tersebut. Mengapa? Beberapa faktor menjadi penyebabnya. Pertama, kasih tidak diamalkan sebagai way of live dalam komunitas tersebut; kedua, sistem pendidikan pemuridan gagal melakukan fungsinya karena hanya mendidik pada tatanan epistemologi saja; ketiga, terseret kepada sistem-sistem yang dikembangkan oleh Homo Ingenium Praeter Impius. Itulah sebabnya untuk sementara varietas Homo Ingenium Praeter Impius terlihat lebih unggul dari varietas Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo.
[1] Pada surat Efesus dibedakan antara manusia baru (καινὸν ἄνθρωπον) dengan manusia lama (παλαιὸν ἄνθρωπον), perbedaan itu terletak pada siapa yang menguasai. καινὸν ἄνθρωπον dikuasai oleh Tuhan, sementara παλαιὸν ἄνθρωπον dikuasai oleh keinginan-keinginan yang jahat seperti pada (Kolose 3: 5; 3: 8). [2] Frank E. Gaebelein, The Expositor’s Bible Commentary, (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1978), p. 63. [3] George Arthur Buttrick, (ed), The Interpreter’s Bible, (Nashville: Abingdon Press, 1980), p. 699. [4] Lioyd J. Ogilvie (ed), Texas: Word Books Publisher, 1982, p. 209. [5] Thiessen, Henry C. , Teologi Sistematika. (Malang: Gandum Mas, 1992), hal. 127 [6] Erickson, Millard J., Christian Teology. (Grand Rapids: Baker Book House, 1993), page 284 [7] Ibid., page 285 [8] Lebih lanjut lihat Augustine, on Free Choice of the Will, Terj. Anna Benjamin and L.H. Hackstaff, Indianapolis: Bobbs-Merrill Company, 1964. [9] Andrew T. Lincoln (ed), Word Biblical Commentary vol 42, (Dallas: Word Books Publisher, 1990), p. 289. [10] Ibid., page 286 [11] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika. Jakarta: LRII, 1994), hal. 126. [12] Erickson, Millard J., Christian Teology. (Grand Rapids: Baker Book House, 1993), page 286 [13] Ibid., page 289 [14] Elwell, Walter A., dd., Baker Encyclopedia of The Bible. (Grand Rapids: Baker Book House, 1995), page 1861. [15] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika. Jakarta: LRII, 1994), hal. 128. [16] Thiessen, Henry C. , Teologi Sistematika. (Malang: Gandum Mas, 1992), hal. 130 [17] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika. Jakarta: LRII, 1994), hal. 117. [18] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, (Jakarta: YKBK/ OMF, 1992), hal 134. [19] Ibid. [20] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika. Jakarta: LRII, 1994), hal. 118. [21] Erickson, Millard J., Christian Teology. (Grand Rapids: Baker Book House, 1993), page 292. [22] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992), hal. 22. [23] Ibid [24] Lihat Mazmur 103:19 dan Mazmur 145:11. George Eldon Ladd, Injil Kerajaan. (Malang: Gandum Mas, 1999), hlm. 21. [25] Ibid., hlm. 131 [26] Inilah yang membedakan varietas ini dengan varietas baru Homo Ingenium Praeter Impius. Homo Ingenium Praeter Impius, hanya memiliki satu kategori saja yakni, rasio. Itu sebabnya segala sesuatu yang tidak dapat ditangkap secara rasio atau indra (seperti, pemikiran supra rasio) tidak dapat diterima mereka sebagai kebenaran. [27] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru (Jakarta: Gunung Mulia, 1991), hal. 174-175. [28] Yunani melihat pikiran lebih tinggi dari bagian yang lain, seperti kehendak dan emosi. Itulah sebabnya pandangan Yunani seperti yang dikatakan Plato, bahwa rasiolah yang harus memimpin agar manusia itu ada dalam kebaikan, dan bukannya kehendak atau emosi. [29] Andre Comte-Sponville, Spiritualitas Tanpa Tuhan, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2007), hal. 155-160. [30] Aneh juga, seorang ateis tidak percaya kepada Tuhan yang adalah Roh, tetapi percaya akan adanya roh manusia. [31] Saya kira ini tidak berbeda dengan agama yang menjadikan lembu menjadi tuhan-nya. Hanya berbeda objek saja, tetapi tetap disebut tuhan. Dan saya piker ini adalah bentuk pengingkaran kepada Tuhan yang Abadi. [32] Andrew T. Lincoln (ed), Word Biblical Commentary vol 42, (Dallas: Word Books Publisher, 1990), p. 288. [33] Judo Poerwowidagdo, (Penyunting: Robert Setio), Teologi Ekonomi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), hal. 33. [34] Roma 10: 14-15 [35]Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenada, 2004), hal. 5. [36] Ibid., hal. 16. [37] T.B. Ihromi, Sosiologi Keluarga, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), hal. 30. |
||||||||||||||||||
| Last Updated ( Tuesday, 24 August 2010 ) | ||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|