Waktu Hari ini

Statistics

OS: Linux m
PHP: 5.2.9
MySQL: 5.0.92-community-log
Time: 14:29
Caching: Disabled
GZIP: Enabled
Members: 56
News: 151
Web Links: 9
Visitors: 56530
H o m e arrow Artikel arrow Umum arrow Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo

Perkuliahan Christian Leadership Dimulai Tanggal 20 Januari 2012
Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo PDF Print E-mail
Written by Aripin Tambunan   
Wednesday, 13 January 2010
Article Index
Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16

Jadi apakah mungkin mereka dapat menjadi spiritual tanpa Tuhan? Tentu tidak, pemikiran ini hanya diutarakan oleh Andre Comte-SponVille.[29] Sebenarnya apa yang diutarakannya pun tidak menunjukkan bahwa seseorang dapat memiliki spiritualitas tanpa Tuhan.  Sebab ia sendiri mendefinisikan adanya tuhan yaitu otak atau ruh[30]manusia. Ia hanya mengingkari adanya sifat-sifat Tuhan (transendensi), tapi tidak mengingkari adanya yang Absolut atau eksistensi yang Absolut. Jadi sebenarnya ia dapat menjadi spiritual karena mengikuti hukum-hukum ruh manusia, yang Absolut atau tuhan-nya Andre Comte-Sponville. Jadi tidak mungkin seseorang menjadi spiritual tanpa Tuhan- apakah itu tuhan yang ia ciptakan sendiri, bentuk yang berbeda sperti, substansi material, alam, atau otak.[31]   

Varietas ini menaikkan rasa syukur, doa, dan puji-pujian kepada Allah yang Agung, Allah Penguasa Alam Semesta. Bersyukur atas pemeliharaan Allah terhadap dirinya dan alam semesta. Berdoa bagi dirinya, sesamanya, dan bagi negaranya. Menaikkan puji-pujian dan penyembahan kepada Allah, karena Ialah satu-satunya Allah yang layak disembah, diagungkan dan dipuja.

Struktur Masyarakatnya

            ’Whereby righteousness is doing right in relation to humanity, while holiness is being right in relation to God.’ [32]  Karena itu struktur masyarakatnya disusun berdasarkan takut akan Allah, mengapa? Karena ketika hubungan dengan Allah ada di dalam kekudusan, maka hubungan dengan sesamapun akan menjadi benar dan baik. Dengan demikian, akan ada keadilan, kebenaran, dan kekudusan di dalam hubungan-hubungan kemasyarakatan.

Relasi-relasi di dalam masyarakat didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:

  1. Saling mendahului dalam memberi hormat (Roma 12: 10). 

Saling mendahului berasal dari kata ’proegeomae’ artinya, to lead the way for others. Jadi sebenarnya dapat diartikan, saling memimpin dalam memberi hormat, tanpa berpikir siapa yang terlebih dahulu, statusnya apa dan tidak mengurangi harga diri jika ia yang pertama memberi hormat kepada orang lain yang dibawah statusnya.

  1. Hidup berdamai bagi semua orang (Roma 12: 18)

Jika suatu perkara ada dibawah kendalinya atau kekuasaannya, maka mereka akan memilih hidup dalam perdamaian dengan orang lain, siapapun ia. Mereka tidak suka perkelahian, kerusuhan, dan permusuhan.

  1. Dapat sehati sepikir dalam kehidupan bersama (Roma 12: 16)
  2. Saling menyenangkan diantara sesama (Roma 15: 2)

Hubungan-hubungan kekeluargaan merupakan hubungan kasih dan tanggungjawab. Orang tua mengasihi anak dalam tanggung jawab, dan anak mengasihi orang tua dalam rasa hormat.


Last Updated ( Tuesday, 24 August 2010 )
 
< Prev   Next >
 
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com