






| Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||||||||||||
| Wednesday, 13 January 2010 | ||||||||||||||||||
Page 10 of 16 Mereka merupakan sekumpulan orang-orang yang beribadah kepada Allah. Ibadah yang dimaksud dalam hal ini ialah, ibadah seperti yang tertulis dalam 1 Tim 4: 7-8, “… Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, …” Kata ibadah di sana memakai kata “eusebeia” (Yunani) yang artinya adalah sikap hati yang mau tunduk kepada Tuhan di dalam segala hal. Pengertian ini menjelaskan, bahwa apapun yang dikerjakan seseorang, ia haruslah memiliki sikap hati yang mau tunduk kepada Tuhan di dalam melaksanakan pekerjaannya tersebut. Itu berarti pekerjaan tersebut merupakan ibadah kepada Tuhan. Jadi, apakah seseorang sedang memasak, mengajar, bekerja, membesarkan anak, berdoa, berpuasa dan memuji Tuhan, itu semua haruslah merupakan ibadah kepada Tuhan. Pengertian ibadah yang demikian tentulah sangat sukar dilaksanakan, itulah sebabnya Paulus menyuruh untuk melatih hal tersebut (baca: ibadah). Mengapa harus melatih? Karena latihan membuat seseorang terlatih melakukan ibadah seperti yang dimaksudkan Paulus tersebut, sehingga ia dapat melakukannya dengan mudah. Dengan demikian, spiritualitas mereka terlihat bukan hanya pada waktu beribadah di gereja, tetapi di dalam segala tempat, kerja, usaha, sekolah, dan kehidupan keseharian, seperti, canda, tawa, sedih, memiliki masalah atau pergumulan hidup. Dan spiritualitas mereka juga tidak bisa dilepaskan dari pemujaan kepada Tuhan. Sebab mereka berperilaku seperti itu (dalam hal ini berperilaku spiritual), karena mereka mengikuti satu hukum atau ketetapan dari Tuhan. |
||||||||||||||||||
| Last Updated ( Tuesday, 24 August 2010 ) | ||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|