|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 27 September 2009 |
|
Minggu, 27 September 2009 Hidup yang Murni Mazmur 17: 3-5 ‘Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan, mulutku tidak terlanjur’ Tuhan menguji hati Daud, pada waktu malam hari, mengapa bukan waktu pagi hari? Mengapa harus malam? Waktu pagi biasanya seseorang masih segar, masih ingat dengan Tuhan. Jadi akan sangat sedikit kesempatan untuk dapat berbuat dosa. Tetapi jika malam hari, sudah melewati seharian. Sudah banyak hal yang dilakukan. Ketika seperti itulah Tuhan menguji hati Daud. Bukan hanya itu, Tuhan menguji hatinya. Mengapa bukan otaknya yang diuji Tuhan, agar kelihatan IQ Daud? Hati (hati nurani) merupakan wakil Allah yang Tuhan tempatkan di dalam diri manusia. Hati tersebut tidak dapat berdusta, sekalipun ia dapat dibungkam agar tidak berkata-kata, menuntut, menyatakan salah dan dosa. Karena sifat hati yang demikianlah Tuhan menguji dan memeriksa hati Daud. Hebatnya, cara Tuhan memeriksa dan menguji hati Daud, dilakukan seperti cara memurnikan logam mulia. Karena kata yang dipergunakan untuk menyatakan menguji digunakan kata ‘baukhan’ (kata ini dipergunakan untuk menguji logam yang harus 100% murni). Jadi Daud, diuji sedemikian rupa, dan hebatnya, ia kedapatan murni 100%. Maka pertanyaannya bagi kita adalah, apa rahasia Daud sehingga ia mampu seperti itu? Jawabannya ada pada ayat 4-5, yaitu: Pertama, Ia menjaga kelakuannya sesuai dengan Firman Tuhan. Artinya, jika ia melakukan sesuatu, maka ia menggunakan ukuran atau patokan Firman Tuhan. Bertentangankah dengan Firman Tuhan atau tidak. JIka tidak maka ia lakukan, jika ya, maka ia tidak lakukan. Kedua, Taat kepada jejak Tuhan (Firman Tuhan). Tahu jejak TUhan (Firman Tuhan) tetapi tidak mentaatinya, maka tidak berguna. Marilah kita meneladani apa yang dilakukan oleh Daud ini. Doa: Tuhan menolong dan memampukan kita semua itu itu, amin. |
|
Last Updated ( Monday, 28 September 2009 )
|
|
|
Written by Aripin Tambunan
|
|
Tuesday, 15 September 2009 |
|
Curhat Mazmur 142: 3 “Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya” Bila seseorang ada dalam kesusahan, seringkali mencari tempat curhat kepada orang-orang tertentu, misalnya, orangtua, teman akrab, atau pergi ke tempat-tempat konseling. Sebenarnya curhat ke orang-orang tersebut tidaklah salah, namun kita harus mengerti mereka terbatas. Terbatas dalam menolong, dalam waktu, dalam pikiran dan pengetahuan. Jika demikian, harus bagaimanakah kita? Haruskah kita putus asa, kehilangan harapan? Stop…..! Tentu tidak? Marilah kita lihat pengalaman Daud, Daud ada dalam kesusahan yang besar, ia sebenarnya memiliki penasehat-penasehat, memiliki teman atau orang-orang dekat disekelilingnya. Namun pertama-tama ia datang untuk curhat kepada Tuhan. Ia mengeluarkan seluruh keluh kesahnya pada Tuhan. Mengapa ia lakukan hal ini? Karena ia bergaul akrab dengan Tuhan, ia tahu persis kalau Tuhan dapat diandalkan dan akan menolongnya. Ia tahu persis kalau Tuhan itu setia dengan janji-janji-Nya. Tuhan-lah konselor yang baik baginya. Bagaimana dengan kita? |
|
Last Updated ( Sunday, 27 September 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 15 September 2009 |
|
Minggu, 27 September 2009 Keadilan Mazmur 82: 3 “Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan” Allah menginginkan keadilan dilakukan di bumi, mengapa? Karena Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta Allah, Mazmur 89: 15a. Itu sebabnya Allah memperhatikan ketidak adilan yang berlangsung di bumi. Anehnya ketidak adilan itu sering dialami oleh orang-orang: lemah, anak yatim, orang sengsara, orang kekurangan, dan miskin. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin karena orang-orang kuat, kaya, dan berkuasa, lupa bahwa keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta Allah, sehingga mereka berlaku dan bertindak tidak adil atau curang. Bagi kita orang-orang lemah, anak yatim, orang sengsara, orang kekurangan, dan miskin, jangan putus asa ketika kita mengalami ketidak adilan. Ingatlah bahwa Tuhan memperhatikan kesengsaraan yang kita alami, di mana ia sendiri akan memberikan keadilan kepada kita. Bagi kita orang-orang kuat, kaya, dan berkuasa, marilah kita memberikan keadilan kepada siapa saja, tanpa memandang status sosialnya. Karena keadilan adalah tumpuan takhta Allah, Ia ingin kita melakukan keadilan juga. Ingatlah bahwa kitapun akan diadilinya nanti. |
|
Last Updated ( Sunday, 27 September 2009 )
|
|
|